Menaikkan daya tahan tubuh

Menaikkan daya tahan tubuh
Menaikkan daya tahan tubuh

Senang melakukan olahraga meski tak terlalu lama namun sering atau lama namun
dengan santai melakukannya, maka aktivitas itu bisa meningkatkan hormon-hormon
baik dalam otak seperti adrenalin, serotonin, dopamin, dan endorfin. Hormon ini
berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Studi yang dilakukan di Inggris
memperlihatkan bahwa 83 persen orang yang memiliki ganguan mental

mengandalkan olahraga untuk meningkatkan mood dan mengurangi kegelisahan.
Sementara para peneliti di Duke University menemukan bahwa 60 persen orang
depresi yang melakukan olahraga selama empat bulan dengan frekuensi tiga kali
seminggu dan setiap latihan selama 30 menit bisa mengatasi gejala ini tanpa obat.
Meski tergolong langkah yang mujarab namun bukan berarti pengobatan bisa
langsung dihentikan, apalagi bagi yang mengalami depresi berat.

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter

Renang sebagai Fisioterapi Saraf Terjepit

Renang sebagai Fisioterapi Saraf Terjepit
Renang sebagai Fisioterapi Saraf Terjepit
Renang sebagai Fisioterapi Saraf Terjepit

Menurut Dr. Nicolaas, C. Budhiparama, FICS, dokter ahli ortopedi dari RS Pantai Indah Kapuk, Jakarta, untuk merawat sendi, kita justru harus terus beraktivitas dan bergerak. Salah satunya, rutin berkegiatan fisik seperti olahraga.

Olahraga yang tepat bagi pasien radiculopati cervical atau saraf terjepit adalah berenang dan pilates. Kegiatan fisik ini dapat memperkuat otot punggung dan leher tanpa menimbulkan tekanan yang besar pada tubuh, sehingga meminimalkan risiko timbulnya nyeri.

Yang tidak boleh dilupakan dalam menjalani latihan fisik adalah sesi pemanasan sebelum olahraga dan pendinginan setelahnya. Keduanya berguna untuk meminimalkan cedera pada sendi.

“Banyak orang yang inginnya cepat saja, termasuk dalam berolahraga. Biasanya orang lupa melakukan pemanasan dan pendinginan, tetapi langsung masuk ke menu olahraga utama. Hal ini dapat menyebabkan cedera pada sendi,” ungkap Dr. Nicolaas.

Konsumsi suplemen buat sendi juga disarankan untuk menambah kemampuan sendi, misalnya glukosamin dan kondroitin, yang bisa dijumpai dalam makanan laut (kerang-kerangan), juga vitamin C yang mudah ditemukan dalam berbagai jenis buah dan sayuran, serta bromealin, yang banyak terkandung dalam nanas.

kami butterfly swimming course  juga telah merasakan manfaat dari terapi renang untuk kasus2 semacam ini. bahkan mereka menyatakan “Ndak usah jauh2 cari pengobatan untuk sakit punggung/ saraf terjepit… disinilah tempatnya..!”. Demikian pernyataan mereka pada murid renang sy yg sdh tdk muda lagi… Usianya 68th, tp menurut mrk : “wong msh muda kok… ayo yg smangat renangnya..! biar cepat sembuh”..  maklum usia mrk sdh diatas 70th (ada 3 nenek dan 1 kakek). mereka juga mengalami sakit punggung atau Syaraf terjepit…

Semoga kasus diatas menginspirasi banyak orang untuk tdk mudah menyerah dalam mencari kesembuhan…
Setiap penyakit pasti ada obatnya…
“dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku,”

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter

Incoming search terms:

  • terapi renang untuk syaraf kejepit

Terapi Air / Terapi Renang

Terapi renang
Terapi renang
Berenang… apakah kelebihan aktiviti renang kepada kanak – kanak khas terutamanya kanak – kanak autisma? Dan saya pernah ditanyakan dengan soalan “Apa kelebihan / guna aktiviti renang tu untuk murid pendidikan khas?” dan saya hanya mampu menjawab ” penting untuk self confident murid”.
Namun keperluan / kepentingan aktivti renang ini bukan setakat itu sahaja. Banyak yang perlu kita tahu terutamanya guru-guru untuk kita lebih aktif mengadakan rekreasi sambil belajar ini dan juga perlu ibubapa tahu untuk mereka faham kenapa dan mengapa mereka perlu memberi sokongan terhadap aktiviti yg dianjurkan sekolah.
Terapi Air / Terapi Renang
Terapi Air / Terapi Renang

Berenang?
Kenapa  aktiviti / terapi / rekreasi renang ini perlu juga kepada kanak – kanak khas amnya dan kanak-kanak Autisma khasnya? Aktiviti berenang melibatkan pergerakkan otot atas dan bawah anggota badan. Aktiviti air boleh membantu memberi input terhadap proprioceptive (kecepatan mahupun kemampuan menerima ransangan) dan tactile (berkaitan dengan deria sentuhan) kanak-kanak autisma.
Aktiviti berenang boleh membantu dalam perkembangan koordinasai otot tangan dan kaki serta sistem pernafasan kanak-kanak. Ini kerana melalui aktiviti berenang, kanak-kanak Autisma  perlu menggerakkan anggota badan mereka untuk membolehkan bergerakkan dalam air.
Melalui aktiviti ini juga ia boleh membantu dalam meningkatkan sistem kognitif. Di mana dengan berenang, kanak-kanak perlu menggerakkan beberapa anggota badan atau sistem pernafasan dalam satu pokies voyeur gallery masa. Contohnya, kita perlu menggerakkan tangan dan kaki kita untuk membolehkan kita bergerak atau berjalan di atas air. Dengan latihan renang yang berterusan, kanak-kanak berupaya meselarikan keseimbangan gerakkan anggota badan dan sistem pernafasan untuk berada dalam keadan “stabil”.
Aktiviti renang juga membantu dalam relaksasi diri. Air dikatakan merupakan salah satu bahan terapi yang baik untuk relaksasi atau ketenangan emosi/diri seseorang. Kaedah ini mungkin dapat membantu dalam mempertingkatkan kemahiran pengawalan emosi kanak-kanak. Untuk kanak-kanak yang tidak suka air, aktiviti renang boleh dilakukan secara perlahan-lahan. Aktiviti/latihan boleh dilakukan di atas “daratan” sebelum secara perlahan-lahan kanak-kanak itu dibawa ke dalam air.
Melalui aktiviti berenang juga dikatakan mampu membina yakin diri kanak-kanak. Memberi peluang kanak-kanak khas ini melakukan seperti mana rakan mereka yang lain sebenarnya mampu meningkatkan keyakinan diri mereka. Selain itu, inilah peluang mereka untuk mengenal dunia luar dan mengembangkan kemahiran sosialisasi mereka samada sesama rakan, guru mahupun dengan orang sekitar kolam renang. Kalaupun kanak-kanak ini belum mampu berinteraksi dengan orang lain, sekurang-kurangnya mereka memahami arahan/instruksi visual yang disampaikan oleh instruktor.
Pada keseluruhannya, berenang bukanlah rekreasi semata-mata. berenang juga merupakan satu aktiviti luar bilik darjah yang boleh membantu dalam perkembangan kemahiran motor kasar, motor halus, kemahiran sosialisasi dan juga membantu dalam pembinaan yakin diri kanak-kanakannya dan kanak-kanak khas khususnya.
Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter

HidroTerapi untuk Osteoporosis

Hidroterapi untuk Osteoporosis
Hidroterapi untuk Osteoporosis

Istilah sederhana osteporosis berarti tulang keropos atau memiliki masa tulang yang
rendah dan ciri khasnya adalah penurunan masa tulang dan kemunduran jaringan tulang
yang menyebabkan tulang mudah patah dan resiko terjadinya fraktur. Sering kali, penyakit
ini berlangsung tak terdeteksi sampai terjadinya patah tulang oleh karena tabrakan kecil,
terjatuh, atau saat berjabat tangan. Untuk mencegah atau mengurangi efek dari osteoporosis
ini adalah dengan menjaga latihan secara rutin. Aktifitas menumpu berat badan (weightbearing),
seperti jalan atau berlari kecil, latihan daya tahan otot, latihan kekuatan otot dapat

Hidroterapi untuk Osteoporosis
Hidroterapi untuk Osteoporosis

meningkatkan keseimbangan tubuh, dengan demikian mengurangi resiko terjatuh.
Hidroterapi sangat aman untuk latihan bagi penderita osteoporosis. Jenis fisioterapi di
dalam kolam renang ini menyediakan tempat yang aman untuk latihan tanpa menimbulkan
risiko terjatuh atau mengalami patah tulang. Hidroterapi meningkatkan kekuatan otot,
mengurangi nyeri dengan mengurangi tekanan penumpuan berat badan pada sendi dan
tulang, meningkatkan keseimbangan, mempercepat kesembuhan, dan meningkatkan
propioseptif (reseptor sendi). Hidroterapi membantu untuk rileks dan meningkatkan
sirkulasi darah, lingkup gerak sendi, tonus otot, dan kepercayaan diri. Berikut ini beberapa
bentuk latihan di kolam renang untuk penderita osteoporosis diambil dari Bates A, &
Hansen N. The Principles and Properties of Water: Aquatic Exercise and Therapy
(1996:21-28).

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter

Terapi Skoliosis

Skoliosis adalah kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang. Sebanyak 75-85% kasus skoliosis merupakan idiofatik, yaitu kelainan yang tidak diketahui penyebabnya. Sedangkan 15-25% kasus skoliosis lainnya merupakan efek samping yang diakibatkan karena menderita kelainan tertentu, seperti distrofi otot, sindrom Marfan,sindrom Down, dan penyakit lainnya.

Berbagai kelainan tersebut menyebabkan otot atau saraf di sekitar tulang belakang tidak berfungsi sempurna dan menyebabkan bentuk tulang belakang menjadi melengkung.

Ahli bedah tulang (ortopedi) mengklasifikasikan idiofatik skoliosis ke dalam empat kategori berdasarkan usia penderita ketika kelengkungan tulang terlihat untuk pertama kalinya.

Keempat kategori tersebut adalah skoliosis idiofatik anak-anak, remaja, pada remaja yang berada di sekitar masa pubertas, dan dewasa.

Dalam perkembangannya, Scoliosis lebih lanjut Pada umumnya dibagi atas dua kategori diantaranya adalah Scoliosis Struktural dan Non Struktural.
Scoliosis Struktural

Suatu kurvatura lateral spine yang irreversible dengan rotasi vertebra yang menetap. Rotasi vertebra terbesar terjadi pada apex. Jika kurva bertambah maka rotasi juga bertambah. Rotasi ini menyebabkan saat foward bending costa menonjol membentuk hump di sisi convex. Sebaliknya dada lebih menonjol di sisi concav. Scoliosis struktural tidak dapat dikoreksi dengan posisi atau usaha penderita sendiri.
Scoliosis Non Struktural / Fungsional Scoliosis / Postural Scoliosis

Suatu kurvatura lateral spine yang reversibel dan cenderung terpengaruh oleh posisi. Di sini tidak ada rotasi vertebra. Umumnya foward/side bending atau posisi supine/prone dapat mengoreksi scoliosis ini.
Deskripsi Kurva

  • Arah scoliosis ditentukan berdasarkan letak apexnya.
  • Kurva mayor/kurva primer adalah kurva yang paling besar, dan biasanya struktural. Umumnya pada scoliosis idiophatic terletak antara T4 s/d T12
  • Kurva kompensatori adalah kurva yang lebih kecil, bisa kurva struktural maupun non struktural. Kurva ini membuat bahu penderita sama tingginya.
  • Kurva mayor double, disebut demikian jika sepadan besar dan keparahannya, biasanya keduanya kurva struktural.
  • Apex kurva adalah vertebra yang letaknya paling jauh dari garis tengah spine.

Letak dan Bentuk Kurva

  • letak kurva bisa di cervical, thoracal, lumbal, atau beberapa area
  • bentuk kurva
  • Kurva C : umumnya di thoracolumbal, tidak terkompensasi, kemungkinan karena posisi asimetri dalam waktu lama, kelemahan otot, atau sitting balance yang tidak baik.
  • Kurva S : lebih sering terjadi pada scoliosis idiophatic, di thoracal kanan dan lumbal kiri, ada kurva mayor dan kurva kompensatori, umumnya struktural.

Derajat Scoliosis

  • Derajat scoliosis tergantung pada besar sudutnya dan besar rotasinya. Makin berat derajat scoliosis makin besar dampaknya pada sistem kardiopulmonal.
  • Teknik Pengukuran Scoliosis
  • Pengukuran sudut kurva dapat dilakukan dengan metode Cobb atau Risser-Ferguson. Lihat gambar.
  • Pengukuran rotasi vertebra dengan menilai x-raynya dibagi menjadi 4 tingkat. Lihat gambar.

Gambar Pengukuran kurva dan rotasi scoliosis 

 

  • Klasifikasi dari derajat kurva scoliosis
  • Scoliosis ringan : kurva kurang dari 20 º
  • Scoliosis sedang : kurva 20 º – 40 º /50 º. Mulai terjadi perubahan struktural vertebra dan costa.
  • Scoliosis berat : lebih dari 40 º /50 º. Berkaitan dengan rotasi vertebra yang lebih besar, sering disertai nyeri, penyakit sendi degeneratif, dan pada sudut lebih dari 60 º – 70 º terjadi gangguan fungsi kardiopulmonal bahkan menurunnya harapan hidup

Klasifikasi Scoliosis berdasarkan etiologi

  • Etiologi Scoliosis Struktural :
  • Idiophatic : sekitar 75-85 %. Onset umumnya adolescent. Lebih banyak pada wanita. Secara teori dikaitkan dengan malformasi tulang selama pertumbuhan, kelemahan otot di satu sisi, postur abnormal , dan distribusi abnormal muscle spindle otot paraspinal.
  • Neuromuscular : 15 – 20 % , seperti CP, myelomeningocele, neurofibromatosis, Polio, paraplegi traumatik, DMD, dll
  • Osteopathic : congenital (hemivertebra) atau acquired ( rickets, frakture, dll )

 


  • Etiologi Scoliosis Nonstruktural
  • Leg length discrepancy : True LLD atau Apparent LLD.
  • Spasme otot punggung
  • Habitual asymmetric posture

Evaluasi Scoliosis

  • Prosedur Evaluasi
  • Postural assessment, Evaluasi dilakukan dengan inspeksi anterior, lateral dan posterior penderita. Perhatikan adanya :
  • Level bahu asimetris
  • Skapula yang prominence di sisi convex
  • Protusi hip di satu sisi
  • Pelvic obliquity
  • Meningkatnya lordotik lumbal
  • Flexibility of the curve, Lakukan evaluasi dengan lateral dan foward bending untuk melihat adanya kelainan struktural. Lihat gambar.
  • Lateral bending ke sisi convex untuk melihat apakah kurva scoliosis bisa terkoreksi. Lateral bending yang asimetris menunjukkan adanya kelainan struktural.
  • Foward bending untuk melihat adanya rotasi vertebra di sisi convex berupa hump.
  • Evaluation of muscle strength
  • a. Otot sisi convex lemah
  • b. Otot perut dan back extensor lemah
  • c. Jika ada pelvic obliquity maka otot hip juga lemah pada sisi convex ( hip yang lebih rendah )

 

  • Diagnosa Scoliosis dibuat berdasarkan :
  • Anamnesa dan pemeriksaan fisik yang lengkap
  • Pemeriksaan tambahan
  • a. X-ray standard scoliosis dilakukan dengan berdiri AP, bending kanan, bending kiri. Dilakukan pula evaluasi Risser Sign dan kalau perlu Bone Age.
  • b. Pada scoliosis sedang dan berat seringkali perlu dilakukan pemeriksaan fungsi paru berupa vital capacity dan total lung capacity
Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter

Incoming search terms:

  • terapi skoliosis di bandung
  • manfaat hidroterapi bagi anak skoliosis dan pelaksanaannya